Monthly Archives: September 2019

Apa anime terbaik sepanjang masa menurut Anda.?

Nonton streaming download anime – meownime.mobi Bingung. Tapi akhirnya pilihan saya jatuh ke anime ini karena satu kutipan yang membuat saya merasa sangat dimengerti hehehe. Betul. Kebebasan untuk tidak terlibat adalah kebebasan tertinggi. Namun sepertinya sulit terwujud, karena toh segala hal sepertinya saling terkait. Kebebasan setingkat itu hanya dapat terwujud jika tidak terlahir ke dunia. Anime Legend of the Galactic Heroes tidak memiliki intensitas keseruan yang ramah. Kemajuan cerita terasa lambat. Peperangannya, meski seru, tidak begitu heboh. Namun yang menarik adalah momen-momen berpikir yang terjadi saat hendak bertindak. Utamanya, anime ini menceritakan kisah perjuangan dua kubu, satu kubu demokratik, dan satu lagi kubu monarki. Kedua kubu ini masing-masing memiliki masalahnya sendiri, namun tetap berusaha menumpas satu sama lain karena merasa bentuknyalah yang paling benar.
  • Pada anime ini terlontar diskusi politik yang menggelitik:
“Aku percaya kalau dikuasai oleh demokrasi terburuk lebih bagus daripada dikuasai oleh autokrasi terbaik. Itulah sebabnya aku melawan Pangeran Reinhard von Lohengramm demi Job Trunicht. Aku pikir itu prinsip yang bagus.”
–Yang Wen-Li.
“Rudolf, yang mendirikan Galactic Empire, menjadi Kaisar dengan dukungan penuh dari para rakyat. Seperti apa rasanya sebelum itu, saat demokrasi bobrok memerintah? Bukankah itu sesuatu yang patut kau pikirkan? Dengan kata lain, apa kekuasaan oleh demokrasi terburuk memberikan pemerintahan yang lebih baik daripada kekuasaan oleh autokrasi terbaik? Sungguh, mana yang lebih baik?”
–Schenkopp, tanggapannya terhadap itu.

Intinya, Yang Wenli, tokoh utama yang ‘terpaksa’ menjadi pahlawan perang di kubu demokratik, merasa bahwa demokrasi yang awut-awutan, rumit, dan lambat seperti bagaimana Free Planets Alliance berjalan, tetap lebih baik dibandingkan kinerja efektif efisien monarki Galactic Empire yang waktu itu sedang disetir Reinhard von Lohengramm.

Jika Yang Wenli sendiri mengakui kehebatan mesin pemerintahan di tangan besi Reinhard, mengapa menurutnya demokrasi yang bobrok tetap lebih baik?
Simak diskusi berikut antara kedua protagonis utama:
  • Reinhard: “Apa demokrasi itu begitu hebat? Bukankah Galactic Republic melahirkan Rudolf dan Galactic Empire miliknya? Bukankah orang yang mengantarkan negara tercintamu ke tanganku pemerintahmu sendiri, yang dipilih atas dasar kehendak bebas rakyat Aliansi? Kekuasaan demokratis adalah sebuah badan yang dipilih oleh warga negaranya dengan kehendak bebas yang mencakup kuasa dan semangat pribadi.”
  • Yang: “Jika Anda bisa memaafkan kelancangan saya, yang mulia, perkataan Anda seakan-akan menyiratkan kegunaan dari api harus diabaikan, hanya karena adanya arson.”
  • Reinhard: “Hmm, itu mungkin benar, tapi bukankah menurutmu hal yang sama berlaku untuk kediktatoran? Kamu tidak bisa menyangkal efisiensi pemerintahan dengan kepemimpinan yang kuat hanya karena adanya para tiran.”
  • Yang: “Saya bisa.”
  • Reinhard: “Bagaimana?”
  • Yang: “Hak untuk melanggar hak-hak rakyat adalah milik para rakyat. Dengan kata lain, sewaktu para rakyat memberikan kuasa pada Rudolf von Goldenbaum, atau kepada pria yang sangat jauh lebih tak signifikan seperti Job Trunicht, tanggung jawabnya adalah milik para rakyat. Bukan milik yang lainnya. Itulah poin pentingnya. Dosa dari kediktatoran itu bahwa rakyat dapat melimpahkan kegagalan-kegagalan pemerintah pada seorang manusia. Dibandingkan dengan dosa setinggi itu, keberhasilan-keberhasilan dari seratus penguasa bijaksana nampaknya kecil. Ditambah lagi, yang mulia, seorang penguasa sehebat Anda sangatlah langka. Sudah sewajarnya kalau pencapaian dan kegagalan Anda juga sangat menonjol.”

Simak juga diskusi Yang Wenli dengan istrinya:
  • Frederica: “Autokrasi itu struktur yang paling efektif untuk melaksanakan perubahan-perubahan yang drastis.”
  • Yang: “Di sisi lain, demokrasi adalah sesuatu yang berbelit-belit. Dan para rakyat yang kecewa akan kerumitan seperti itu akan selalu berkata: “Ayo beri kuasa pada seorang politisi hebat dan biarkan dia membuka jalan untuk perubahan-perubahan yang revolusioner.” Aku bertanya-tanya apa para massa sejak dulu menginginkan seorang autokrat. Dan mereka mungkin mendapat penguasa autokratik yang ideal sekarang. Dibandingkan dengan patung emas yang brilian itu, demokrasi itu tak lebih dari sebuah patung perunggu yang memudar. Tidak, tidak! Julian, kita ini prajurit. Dan struktur republik sering lahir dari mulut senapan-senapan. Tapi kaum militer, meskipun menbuahkan demokrasi, seharusnya tidak pernah membanggakan pencapaiannya. Dan itu bukan sesuatu yang tidak adil! Karena inti dari demokrasi terletak pada pengendalian oleh rakyat, yang memiliki kuasa. Demokrasi melembagakan pengendalian dari para pemegang kekuasaan lewat hukum dan struktur. Dan kaum militer paling membutuhkan pengendalian ini. Mereka berjuang untuk struktur politik yang secara fundamental menyangkal mereka. Kaum militer dari sebuah demokrasi harus menerima struktur yang kontradiktif itu. Yang bisa dituntut oleh para kaum militer dari pemerintahnya adalah dana pensiun dan cuti berbayar; hanya itu saja. Dengan kata lain, hak-hak dari para pekerja–mereka tidak bisa menuntut lebih dari itu.”
Menambahkan apa yang diutarakan Yang Wenli, menurut saya manusia itu tidak ada yang sempurna. Manusia yang bermoral, brilian, dan pandai memimpin itu langka. Ketergantungan monarki pada suatu pemimpin utama akan memberikan peluang pada fase-fase kebobrokan yang panjang, parah, dan sulit dikoreksi karena jangkauan kekuasaan yang terlalu kuat. Ya beruntung kalau yang naik tahta orang hebat dan adil, lah kalau yang naik tahta goblog dan gebleg, piye? Susah. Bisa jadi awalnya rakyat pasrah, tapi lama-lama bisa jadi malah tumpah darah. Sementara itu pada mesin demokrasi, terdapat patokan-patokan birokrasi yang membatasi dan membagi kekuatan-kekuatan untuk saling menjaga, juga tersedia ruang dan waktu untuk terjadinya pergeseran kekuasaan yang damai. Jika tidak puas, tinggal tunggu tanggal main berikutnya untuk pilih yang lain. Ya, kan?
Hehe.
Tapi, mohon dengan sabar ikuti saya.
Kita perhatikan lagi alur logikanya.
Jika demokrasi bobrok lebih baik daripada monarki yang efektif dan efisien, bukankah anarki lebih baik daripada demokrasi bobrok?
Itu pertanyaan yang timbul di benak saya ketika menyimak diskusi tersebut di anime ini. Jika bicara prinsip dan ideal yang muluk-muluk, dunia anarki itu adalah mimpi indah. Tidak ada pemerintahan, namun hidup tetap teratur. Natural order. Karena sesungguhnya pemerintahan adalah suatu ongkos yang harus kita bayar karena kita belum beradab. It’s the fucking price we pay for not being civilized enough.
Jika setiap manusia mampu beradab, mampu dipercaya, mampu saling jaga, mampu berbagi dan mengerti, mampu hidup semoral-moralnya hidup, tidak akan diperlukan lagi keberadaan pemerintahan yang memaksakan kehendak mengatur ini itu.
Tapi itu, sementara ini tidak mungkin. Namun dengan merujuk pada logika yang saya turunkan seenak udel saya dari argumen Yang Wenli, tetap lebih baik diusahakan untuk terus memotong middle-manager, terus mengetukkan palu struktur vertikal hingga menjadi lebih horizontal, terus memperpendek jarak antara penguasa dengan rakyat, terus mendekatkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan atas segala kebijakan mengenai rakyat pada rakyat. Biarlah lambat, biarlah salah, biarlah goblok, tak apa, asal diberikan hak untuk salah, ada juga hak untuk benar, ada kesempatan belajar dan belajar dan menjadi lebih besar.
Silakan menonton anime ini untuk menikmati diskusi-diskusi dan pemikiran-pemikiran yang dieksplorasi di dalamnya. Perangnya juga lumayan seru dan anime ini juga tidak melulu berfokus pada kedua protagonis, namun juga menceritakan perjuangan dan peran segudang tokoh lainnya.

Trivia: Yang Wenli sendiri, sang pahlawan demokrasi, pernah dituduh sebagai seorang anarkis.
Yang: “Sebuah negara tidak menciptakan orang-orang lewat pembelahan seluler. Justru orang-orang dengan niat untuk berdiri sendirilah yang berkumpul untuk mendirikan sebuah negara. Dalam sebuah komunitas yang demokratis, siapa tuan dan siapa pelayan itu aksiomatis.”
Jaksa Negroponty: “Aksiomatis, eh? Pemahaman saya agak berbeda. Manusia adalah makhluk sosial. Tak ada yang bisa hidup sendirian, dan oleh karena itu negara punya nilai yang sangat diperlukan oleh manusia.”
Yang: “Benarkah? Manusia mungkin butuh komunitas, tapi mereka tidak benar-benar memerlukan ‘negara-negara’.”
Negroponty: “Saya terkejut. Anda itu seorang anarkis yang lumayan radikal.”
Yang: “Tidak, tapi Anda bisa bilang saya ini seorang vegan. Meskipun waktu saya melihat sebuah masakan daging yang lezat, saya mematahkan pedoman saya pada saat itu juga.”